Jumat, 01 November 2013
Senin, 09 September 2013
Nelayan Indonesia
Melihat siaran televisi tentang
#SOShark (save our shark) akhir-akhir ini membuat saya teringat liputan
mengenai nelayan di Indonesia di saluran televisi swasta. Sedikit memberikan
gambaran nelayan Indonesia hidup sangat sederhana. Sangat ironi jika kita tahu
betapa kayanya laut Indonesia. Tapi kenapa nelayannya tidak ikut kaya? Salah
satu yang dibahas dalam liputan waktu itu adalah penyebab kurang sejahteranya
kehidupan nelayan. Beberapa faktor penyebabnya adalah masalah pengetahuan
tentang perikanan, teknologi, dan pemasaran nelayan Indonesia yang masih sangat
kurang.
Sumber gambar di sini
Dari beberapa orang mungkin
akan langsung menjawab, ‘ya iyalah, teknologi itu kan mahal? Butuh investasi
besar untuk penerapannya’. Pemikiran ini memang benar, namun tidak dapat
sepenuhnya disetujui. Salah satu contoh adalah seorang wirausaha dalam liputan
tersebut yang mengatakan bahwa beliau sangat miris melihat nelayan Indonesia.
Bahkan beliau turun langsung untuk membantu peningkatan kesejahteraan nelayan.
Salah satu hal yang dilakukan beliau
adalah membantu nelayan untuk memasarkan hasil tangkapannya. Ok, membahas
masalah tangkapan nelayan pasti tidak asing dengan istilah pengepul. Beliau ini
bisa dikatakan sebagai pengepul namun dengan niatan membantu nelayan. Tidak
main-main, beliau membeli hasil tangkapan nelayan dengan harga ekspor. Dengan gigih
beliau mendatangi nelayan satu per satu dan memberikan penjelasan mengenai
keuntungan-keuntungan yang didapat nelayan jika memasok kepada beliau. Tentu
saja beliau bersaing dengan para pengepul lain.
Satu kalimat beliau yang masih
terngiang hingga saat ini, ‘Saya tidak bisa melakukan ini sendirian, saya perlu
bantuan seluruh masyarakat Indonesia.” Kawan, ini bukan permasalahan pribadi
tapi butuh kesadaran tiap pribadi dari kita.
#SOShark
#SOShark adalah salah satu campaign
yang dilakukan oleh WWF Indonesia untuk menyelamatkan kehidupan hiu. Informasi
ini saya dapatkan di salah satu stasiun TV swasta beberapa pekan lalu.
Berdasarkan data yang ada, Indonesia merupakan negara dengan penangkapan hiu
terbesar di DUNIA. Akan tetapi konsumsi terbesar hiu di dunia saat ini bukanlah
Indonesia melainkan China. Namun tetap saja negara yang disoroti dalam aksi
penyelamatan hiu akhir-akhir ini adalah Indonesia.
Ada fakta unik yang saya
dapatkan dalam siaran wawancara dengan WWF saat itu. Data legal mengenai ekspor
hiu Indonesia tercatat tidak terlalu besar, konsumsi hiu Indonesia juga masih
tergolong sedikit. Lantas kemanakah hasil tangkapan hiu-hiu Indonesia? Yap, kebanyakan
hasil penangkapan hiu Indonesia diekspor secara ilegal. Dan perlu diketahui
pula bahwa sebagian besar penangkapan hiu di Indonesia dilakukan dengan tidak
disengaja. Maksudnya adalah nelayan Indonesia tidak bermaksud menangkap hiu,
akan tetapi ikan hiu tanpa sengaja masuk perangkap bersama ikan-ikan yang lain.
Hiu pun sekalian diangkat dan dijual.
sumber gambar di sini
Ikan hiu tidak dijual secara
utuh, hanya sirip ikan hiu yang memiliki harga tinggi. Sedangkan daging hiu
dijual murah karena rasa daging yang tidak cukup enak untuk dikonsumsi. Konon
sirip ikan hiu bisa dijadikan obat beberapa penyakit Bahkan ada rumor memakan
sirip ikan hiu dilakukan hanya untuk prestige semata. Sangat tidak adil merusak
kelangsungan hidup ikan hiu hanya untuk meninggikan image seseorang.
Mengonsumsi ikan hiu tidak hanya
menghentikan kelangsungan ikan hiu, namun juga mematikan kehidupan biota laut
lain bahkan kehidupan manusia. Kok bisa? Ketika ikan hiu tidak ada di suatu
kawasan laut tertentu, maka predator satu tingkat di bawah hiu akan meningkat.
Meningkatnya predator ini tidak diimbangi dengan populasi ikan kecil. Akhirnya
predator ini memakan ikan kecil terlalu banyak sehingga ikan kecil habis. Tidak
adanya ikan kecil akan berpengaruh terhadap kelangsungan predatornya yang
nantinya akan mati pula. Ketika tidak ada kehidupan di laut, maka karang pun
rusak dan mati. Di bagian inilah laut dikatakan mati. Sebagai contoh adalah salah
satu kawasan (kalau tidak salah di wilayah Amerika) yang dinamakan death zone.
Daerah ini adalah wilayah laut yang tidak ada kehidupan di dalamnya. Dan dampak
dari keseluruhan rantai makanan ini adalah tentu saja berkurangnya pemenuhan
kebutuhan manusia akan ikan.
Rabu, 04 September 2013
Selasa, 03 September 2013
Cerita di Kampus Perjuangan
Diterima di
kampus bernama Institut Teknologi Sepuluh Nopember merupakan momen paling
mengharukan dalam hidupku hingga saat ini. Tepatnya hari Sabtu pagi, tanggal 1
Agustus 2009 aku dinyatakan diterima di kampus yang cukup bergengsi di wilayah
Jawa Timur, bahkan di jurusan yang cukup elit pula. Keputusan ingin menjadi
bagian dari kampus yang diisingkat ITS ini bukan sekedar pemikiran saat di
bangku SMA namun keinginan ini telah kurencanakan sejak SMP kelas VII. Ya, aku
ingin menjadi mahasiswa ITS tak lama setelah lulus SD. Dan Alhamdulillah
rencanaku sesuai dengan rencana Allah.
Sumber Gambar Klik di sini
Terkejut diterima di ITS? Tentu saja. Sebelumnya tak pernah terpikirkan dapat masuk di kampus ini. Masih teringat ketika beberapa orang yang mempertanyakan keinginan dan kemampuanku masuk ITS. Mimpiku terlalu tinggi katanya. Minder? Of Course. Beberapa kali aku mempertimbangkan keputusanku. Dan akhirnya, apa salahnya dicoba?
Hari pertama di
ITS, aku dibantu sama teman-teman seperjuangan SMA, Karina Adelia dan Ajeng
Fitria, yang juga diterima di kampus ini. Awal-awal masuk kuliah pun ada teman
sejurusan yang menawarkan untuk menginap di kosnya. Maklum, kegiatan
pengkaderan di ITS seringkali selesai hampir tengah malam.
Di tahun
pertama, mahasiswa baru (Maba) tidak diperbolehkan mengikuti organisasi. Pasalnya
mendaftar sebagai anggota organisasi harus mendapatkan ijin dari ketua himpunan
(kahima) jurusan. Ijin ini hanya bisa didapatkan ketika mahasiswa berhasil
melampaui proses pengkaderan sekitar satu tahun pertama. Namun MaBa diperbolehkan
mengikuti Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). UKM ini semacam ekstrakurikuler di
SMA. Iseng, aku pun ikut mendaftar UKM bahasa asing. Di sini memperlajari dua
bahasa asing, bahasa Inggris dan Jepang.
Awam dengan
bahasa Jepang, aku pun ingin mempelajarinya. Di UKM ini aku bertemu dengan
orang-orang keren dari berbagai jurusan. Beberapa diantara mereka adalah Mas
Mahendra (Fisika) ketua departemen di bahasa Jepang, Mas Galih (teknik mesin)
yang ternyata rutin mengikuti dan juara olimpiade fisika nasional serta nilai
IPKnya nyaris sempurna, Mas Dimitri (kalo nggak salah jurusan sistem Informasi)
ketua UKM bahasa asing yang melanjutkan studi di Taiwan. Bertemu dengan
orang-orang keren membuatku senang. Bisa belajar banyak hal dari tipe orang
yang berbeda-beda.
Satu hal yang
membuatku heran adalah ketika aku ditunjuk sebagai sekretaris UKM bahasa asing
di tahun kedua. Aku merasa kontribusiku tidak banyak apalagi dalam penguasaan
bahasa asing. Tapi jabatan ini akhirnya tetap harus kujalani dengan banyak
belajar karena belum pernah menjadi sekretaris. Dukungan dari teman-teman UKM
sangat membantu selama proses pembelajaran ini.
Tahun kedua, aku
tidak hanya menjabat sebagai sekretaris UKM bahasa asing atau ITS Foreign
Language Society (IFLS). Aku juga aktif berorganisasi di organisasi keislaman
tingkat institut atau Jamaah Masjid Manarul Ilmi (JMMI ITS), organisasi
keislaman tingkat jurusan yang bernama Masyarakat Studi Islam Ulul Ilmi (MSI
UI), serta menjadi staf di kementerian media dan informasi BEM ITS. Mengemban
empat organisasi dengan latar belakang dan lingkungan berbeda di waktu yang
sama sangat sangat menyenangkan. Kamu bisa belajar banyak hal mulai dari
keberagaman orang-orangnya, cara kerja dan cara berkomunikasinya.
Aku kembali
diherankan ketika mendapatkan bingkisan dari organisasi keislaman tingkat
institut. Aku termasuk staf terbaik katanya. Dibimbing oleh orang-orang keren
seperti Mbak Luim dan Mbak Dian serta kerjasama dengan teman-teman seperjuangan
di departemen Hubungan Lembaga Eksternal membuatku memperkuat ukhuwah dan ilmu
agama. Banyak yang dipelajari di organisasi ini. Yang paling berkesan adalah
mengkoordinir dan membantu kegiatan di bulan Ramadhan dan Bakti Sosial. Tapi sekali
lagi, aku merasa kontribusiku masih kurang.
Menjadi staf
biro usaha dan dana di MSI membuatku sedikit kewalahan. Bayangkan saja, terdapat
lima orang staf di biro ini dan aku satu-satunya staf perempuan. Berjalannya
waktu, biroku ditambah satu staf perempuan lagi.
Menjadi reporter
adalah keinginan sejak SMP kelas VII. Dan profesi ini kudapatkan ketika menjadi
staf di Kementerian Media dan Informasi (Medfo) BEM ITS. Tiap staf di Medfo
mendapat tugas meliput. Pengalaman pernah bertemu dengan forum penulis seluruh
Jawa Timur, kunjungan ke Perusahaan Media di Surabaya, mengadakan seminar
kepenulisan popular tingkat nasional, membuat buletin, dan masih banyak lagi.
Senang sekali
mendapat bimbingan keren dari Mas Median (teknik informatika) sebagai menteri,
Mbak Nila Cynthia D (sistem informasi) sebagai sekmen, Mbak Putri (teknik
kimia), Mas Satrio (sistem informasi), Mas Rischan (teknik informatika), Mbak
Dhila (teknik industri), Mbak Adiba (arsitektur) dan teman-teman Medfo
‘Mencatat Sejarah dengan Cinta’.. Terima kasih sebelumnya untuk teman
seperjuangan Medfo, Icha, Lutfia, Dhila, Ayu, Mukti, Randika, Heri, Febi,
Nafis, dan Faiz. Mereka adalah rekan-rekan keren yang membuatku belajar banyak
hal. Belajar beradaptasi, berorganisasi, berkomunikasi, kerja dalam tim, dan
pelajaran-pelajaran berarti lainnya.
Di tahun ketiga,
aku ingin mengamalkan ilmu yang telah kupelajari. Ada dua cara yang bisa
kulakukan. Pertama adalah menjadi asisten di lab jurusan dan yang kedua adalah
menjadi pengajar privat. Namun cara pertama yang kupilih. Setelah menjalani
proses seleksi asisten lab sistem manufaktur sekitar dua bulan, akhirnya aku
diterima beserta lima teman yang lain. Asisten lab sistem manufaktur batch
pertama angkatanku ada Amik #98, Vita #99, Hendri #100, Chris #101, Aku #102,
dan Okky #103.
Image asisten
lab sistem manufaktur yang tegas, cerdas, keras, dan disiplin awalnya sangat
terasa. Butuh beberapa bulan untuk dapat beradaptasi dengan lingkungan baru
ini. Bekerja di bawah tekanan tidak dapat dihindari. Deadline yang tiba-tiba
dengan load kerja yang tidak sedikit membuat kami, asisten baru, sedikit
kewalahan. Namun menurutku di sinilah pengalaman paling menarik.
Di sisi lain,
asisten lab sistem manufaktur dikenal sangat akrab antar anggotanya. Kondisi
yang terlalu banyak tekanan membuat kami lebih sering saling membantu, bertukar
pikiran, menghabiskan waktu di luar bersama-sama, intinya bersenang-senang dan
bersusah-susah bersama. Dan di tahun ketiga, aku banyak menghabiskan waktuku di
kegiatan dalam lab.
Selain menjadi
asisten lab, di tahun ketiga aku juga menjabat sebagai asisten sekretaris
kementerian komunikasi dan infromasi BEM ITS. Kembali lagi belajar dan
beradaptasi dengan orang-orang baru. Menteri Kominfo kali ini adalah Mas Dewa
(teknik informatika) dan Mbak Nila (sistem informasi) sebagai sekmen. Di sini
kembali bertemu dengan orang-orang keren di bidangnya yakni Mukti (teknik
kimia), Ana (teknik kimia), Nafis (teknik informatika), Misbach serta Ivo (sistem
informasi). Dan tentunya kini aku berkenalan dengan staf-staf muda Kominfo yang
sangat energik dan penuh ide.
Bekerja
freelance mulai membuatku tertarik. Ketika ada lowongan sebagai maintenance
website, aku pun mencobanya. Di hari pertama rapat, aku terlambat. Dimarahi?
Tentu saja. Tapi aku sangat sadar dengan kesalahanku dan mulai memperbaikinya.
Terima kasih kepada Bu Maria Anitya Sari. Beliau telah mengajarkanku bagaimana
menjalani kehidupan. Aku tahu bahwa kerja itu ibadah, tapi Bu Maria lebih bisa
memberikan gambaran bagaimana seharusnya bekerja itu.
‘Kerja itu tanggung jawab
kita kepada Tuhan, bukan kepada manusia. Maka bekerjalah dengan sebaik-baiknya’.
Selain itu, Bu Maria juga merupakan sosok pengajar ideal. Sangat bertanggung
jawab atas perkuliahan mahasiswanya, memiliki beberapa anak asuh untuk membantu
pendidikan mereka, serta bertukar pikiran dengan orang-orang yang ingin
memajukan bangsa Indonesia. Contoh nyata yang dapat kusaksikan. Aku pun belajar
banyak dengan pengalaman dan proses bertukar pikiran ini.
Menikmati menjadi mahasiswa telah kujalani
selama empat tahun terakhir. Kini saatnya berkontribusi dan melakukan aksi
nyata untuk bangsa Indonesia. Terkadang aku berpikir bahwa apa yang telah aku dapat dan
proses yang telah kujalani semata-mata bukan hanya untuk diri sendiri tapi untuk berbagi.
Mungkin bukan hanya aku yang berpikiran seperti ini, tapi berapa orang yang
telah melakukan aksi nyata sebagai buah pemikirannya? Indonesia negara yang
besar, jadi butuh banyak orang untuk mulai membangkitkan kejayaannya kembali.
Semoga tiap pribadi dari kita bisa sadar dan mulai bertindak, tidak terkecuali
aku.
Langganan:
Postingan (Atom)

